REINFORCEMENT AND PUNISHMENT

16 09 2009

Reinforcement dan Punishment merupakan perlakuan pendidik kepada anak didiknya. reinforcement dan punishment juga merupakan strategi untuk mengajar dan mendidik siswa, namun, diantara kedua perlakuan tersebut manakah yang lebih baik dan bermanfaat? simak ulasan di bawah ini.

1. Reinforcement

Reinforcement dalam dunia pendidikan anak diartikan sebagai penghargaan yang diharapkan bisa meningkatkan sikap dan perkembangan positif pada anak didik. Biasanya reinforcement berupa hadiah dan pujian. Berikut adalah contohnya;

Hadiah kejutan untuk kesuksesan ulangan harian

Misalnya, anda adalah seorang ibu atau ayah yang sedang menjemput pulang anak anda. Di dalam perjalanan pulang atau boleh juga pada saat tiba di rumah, tanyakan pada anak anda apakah hari ini ada ulangan atau tidak, jika ada ulangan bagaimana hasilnya. misalnya anak anda mendapatkan nilai 8 atau 9, maka ajaklah anak anda untuk merayakan keberhasilannya mencapai nilai tersebut. Langkah ini telah terbukti mampu memacu semangat belajar siswa, maka di sinilah terjadi reinforcement. perlu diketahui bahwa untuk melakukan reinforcement tidak harus menunggu anak mendapatkan nilai 8 atau 9, namun berapapun nilainya, orang tua harus mensupport anak didik.

Ada beberapa wujud reinforcement yang sering dilakukan oleh pendidik. Pertama, reinforcement perayaan keberhasilan dengan memberikan hadiah berupa makanan, kedua, berupa ucapan selamat, dan ketiga berupa hadiah yang lain seperti menonton film kesukaannya, pergi piknik dsb.

Dari beberapa bentuk reinforcement di atas, manakah yang paling baik?

secara berurutan, reinforcement berupa ucapan selamat menempati urutan teratas, disusul pemberian hadiah seperti nonton film dan piknik, dan akhirnya berupa makanan.

Reinforcement atau bukan?

jika seorang guru memberikan iming iming pada anak didiknya bahwa si anak didik akan mendapat hadiah uang, permen, sampai kesempatan pulang terlebih dahulu, bukan merupakan reinforcement, karena mereka hanya akan tertarik pada permen atau kesempatan pulang lebih awal. perlakuan semacam ini hanya akan memberikan efek negatif.

Penerapan reinforcement yang benar adalah “tidak ada peraturan, atau syarat di awal” maksudnya tidak ada perjanjian sebelumnya, namun lebih pada sebuah kejutan bahwa mereka mendapat penghargaan setelah mereka menjalankan kerja keras mereka.

Tidak lagi reinforcement?

Pada sebuah kasus di mana sebuah kelas yang berisi 20 siswa sedang melakukan ujian harian, 3 dari siswa tersebut mendapatkan nilai 10. kemudian sang guru memberikan mereka kesempatan nonton film sesuai judul kesukaan mereka yang disediakan oleh sekolah. dari sini maka siswa yang lain tentunya akan mengetahui konsequensi mendapatkan nilai 10 bisa menonton film dengan judul sesuai pilihan. mereka kemudian ikut ikutan berpacu mendapatkan nilai 10. Nah, apakah peran reinforcement di sini sudah tidak asli reinforcement lagi? jawabnya adalah, dalam ilmu konseling ada istilah Social Learning Theory, dimana, siswa sebenarnya tidak termotivasi oleh nonton filmnya tetapi keinginan meniru keberhasilan orang lain, sehingga mereka terpacu untuk belajar lebih serius. Demikian, reinforcement masih memegang fungsi aslinya sebagai reinforcement.

perlu diketahui bahwa sebaiknya reinforcement tidak diberikan berupa hal yang sama secara berulang ulang, karena disini anak didik sudah  bisa menebak apa yang akan mereka dapatkan, sehingga reinforcement akan kehilangan nilai aslinya.

Selama bertahun tahun dalam kiprah sepak terjang perjalanan panjang sejarah pendidikan di Indonesia, para pendidik kita melupakan peran reinforcement yang sebenarnya sangat fundamental dalam membentuk kepribadian dan semangat belajar siswa. reinforcemet tidak harus mahal, karena reinforcement yang paling baik adalah dengan kekuatan kata kata yang membangun. selama ini masih banyak para pendidik kita yang hanya menggunakan punishment atau hukuman.

2. Punishment

Punishment atau hukuman bukan hal yang baru lagi dalam dunia pendidikan. hukuman sudah terlalu mengakar tunggang dalam benak para pendidik dari jaman pendidikan yang penuh kekerasan hingga sekarang yang meskipun sudah di sana sini digembar gemborkan penghapusan kekerasan pada siswa tetap saja hukuman yang tidak membangun baik berupa kekerasan dan lainnya diterapkan dalam proses pembelajaran dan pendidikan.

contoh dari bentuk punishment yang tidak membangun banyak sekali ditemukan di sekolah, sebut saja siswa kena strap, harus berdiri dibawah tiang bendera. hukuman seperti demikian itu sama sekali tidak membangun. mestinya, ketika siswa melakukan sebuah pelanggaran, hukumlah mereka dengan sesuatu yang justru memberikan manfaat yang positif bagi mereka, misalnya dengan menghafalkan kosa kata bahasa inggris dengan jumlah tertentu dan masih banyak hukuman lainnya yang jauh lebih memberikan kontribusi positif.

Reinforcement yang berubah menjadi punishment

Bisakah sebuah reinforcement berubah menjadi punishment? jawabnya ya,bisa, simaklah kasus di bawah ini:

Sebuah keluarga yang mempunyai kebiasan makan siang bersama mampu menciptakan kehangatan tersendiri di tengah tengah keluarga, kehangatan ini adalah wujud reinforcement sehingga para anggota keluarga selalu ingin pulang agar bisa makan siang bersama keluaraga. namun, pada saat salah satu anggota keluarga, misalnya sang kakak saat pulang sekolah tidak langsung pulang ke sekolah tapi main dan mampir dulu ke rumah teman dan dilakukan berulang ulang, maka pada saat ia pulang kerumah tidak satupun dari anggota keluarga mau berbicara dengannya mulai dari ibu, ayah, dan adik karena ketidakikutsertaan sang kakak dalam acara makan siang berssama. gara gara sikap acuh itulah si kakak merasa mendapatkan hukuman. maka disitulah reinforcement berubah menjadi punishment.

Reinforcement dan Punishment merupakan perlakuan pendidik kepada anak didiknya. reinforcement dan punishment juga merupakan strategi untuk mengajar dan mendidik siswa, namun, diantara kedua perlakuan tersebut manakah yang lebih baik dan bermanfaat? simak ulasan di bawah ini.

1. Reinforcement

Reinforcement dalam dunia pendidikan anak diartikan sebagai penghargaan yang diharapkan bisa meningkatkan sikap dan perkembangan positif pada anak didik. Biasanya reinforcement berupa hadiah dan pujian. Berikut adalah contohnya;

Hadiah kejutan untuk kesuksesan ulangan harian

Misalnya, anda adalah seorang ibu atau ayah yang sedang menjemput pulang anak anda. Di dalam perjalanan pulang atau boleh juga pada saat tiba di rumah, tanyakan pada anak anda apakah hari ini ada ulangan atau tidak, jika ada ulangan bagaimana hasilnya. misalnya anak anda mendapatkan nilai 8 atau 9, maka ajaklah anak anda untuk merayakan keberhasilannya mencapai nilai tersebut. Langkah ini telah terbukti mampu memacu semangat belajar siswa, maka di sinilah terjadi reinforcement. perlu diketahui bahwa untuk melakukan reinforcement tidak harus menunggu anak mendapatkan nilai 8 atau 9, namun berapapun nilainya, orang tua harus mensupport anak didik.

Ada beberapa wujud reinforcement yang sering dilakukan oleh pendidik. Pertama, reinforcement perayaan keberhasilan dengan memberikan hadiah berupa makanan, kedua, berupa ucapan selamat, dan ketiga berupa hadiah yang lain seperti menonton film kesukaannya, pergi piknik dsb.

Dari beberapa bentuk reinforcement di atas, manakah yang paling baik?

secara berurutan, reinforcement berupa ucapan selamat menempati urutan teratas, disusul pemberian hadiah seperti nonton film dan piknik, dan akhirnya berupa makanan.

Reinforcement atau bukan?

jika seorang guru memberikan iming iming pada anak didiknya bahwa si anak didik akan mendapat hadiah uang, permen, sampai kesempatan pulang terlebih dahulu, bukan merupakan reinforcement, karena mereka hanya akan tertarik pada permen atau kesempatan pulang lebih awal. perlakuan semacam ini hanya akan memberikan efek negatif.

Penerapan reinforcement yang benar adalah “tidak ada peraturan, atau syarat di awal” maksudnya tidak ada perjanjian sebelumnya, namun lebih pada sebuah kejutan bahwa mereka mendapat penghargaan setelah mereka menjalankan kerja keras mereka.

Tidak lagi reinforcement?

Pada sebuah kasus di mana sebuah kelas yang berisi 20 siswa sedang melakukan ujian harian, 3 dari siswa tersebut mendapatkan nilai 10. kemudian sang guru memberikan mereka kesempatan nonton film sesuai judul kesukaan mereka yang disediakan oleh sekolah. dari sini maka siswa yang lain tentunya akan mengetahui konsequensi mendapatkan nilai 10 bisa menonton film dengan judul sesuai pilihan. mereka kemudian ikut ikutan berpacu mendapatkan nilai 10. Nah, apakah peran reinforcement di sini sudah tidak asli reinforcement lagi? jawabnya adalah, dalam ilmu konseling ada istilah Social Learning Theory, dimana, siswa sebenarnya tidak termotivasi oleh nonton filmnya tetapi keinginan meniru keberhasilan orang lain, sehingga mereka terpacu untuk belajar lebih serius. Demikian, reinforcement masih memegang fungsi aslinya sebagai reinforcement.

perlu diketahui bahwa sebaiknya reinforcement tidak diberikan berupa hal yang sama secara berulang ulang, karena disini anak didik sudah  bisa menebak apa yang akan mereka dapatkan, sehingga reinforcement akan kehilangan nilai aslinya.

Selama bertahun tahun dalam kiprah sepak terjang perjalanan panjang sejarah pendidikan di Indonesia, para pendidik kita melupakan peran reinforcement yang sebenarnya sangat fundamental dalam membentuk kepribadian dan semangat belajar siswa. reinforcemet tidak harus mahal, karena reinforcement yang paling baik adalah dengan kekuatan kata kata yang membangun. selama ini masih banyak para pendidik kita yang hanya menggunakan punishment atau hukuman.

2. Punishment

Punishment atau hukuman bukan hal yang baru lagi dalam dunia pendidikan. hukuman sudah terlalu mengakar tunggang dalam benak para pendidik dari jaman pendidikan yang penuh kekerasan hingga sekarang yang meskipun sudah di sana sini digembar gemborkan penghapusan kekerasan pada siswa tetap saja hukuman yang tidak membangun baik berupa kekerasan dan lainnya diterapkan dalam proses pembelajaran dan pendidikan.

contoh dari bentuk punishment yang tidak membangun banyak sekali ditemukan di sekolah, sebut saja siswa kena strap, harus berdiri dibawah tiang bendera. hukuman seperti demikian itu sama sekali tidak membangun. mestinya, ketika siswa melakukan sebuah pelanggaran, hukumlah mereka dengan sesuatu yang justru memberikan manfaat yang positif bagi mereka, misalnya dengan menghafalkan kosa kata bahasa inggris dengan jumlah tertentu dan masih banyak hukuman lainnya yang jauh lebih memberikan kontribusi positif.

Reinforcement yang berubah menjadi punishment

Bisakah sebuah reinforcement berubah menjadi punishment? jawabnya ya,bisa, simaklah kasus di bawah ini:

Sebuah keluarga yang mempunyai kebiasan makan siang bersama mampu menciptakan kehangatan tersendiri di tengah tengah keluarga, kehangatan ini adalah wujud reinforcement sehingga para anggota keluarga selalu ingin pulang agar bisa makan siang bersama keluaraga. namun, pada saat salah satu anggota keluarga, misalnya sang kakak saat pulang sekolah tidak langsung pulang ke sekolah tapi main dan mampir dulu ke rumah teman dan dilakukan berulang ulang, maka pada saat ia pulang kerumah tidak satupun dari anggota keluarga mau berbicara dengannya mulai dari ibu, ayah, dan adik karena ketidakikutsertaan sang kakak dalam acara makan siang berssama. gara gara sikap acuh itulah si kakak merasa mendapatkan hukuman. maka disitulah reinforcement berubah menjadi punishment.

alivfaizalmuhammad

Iklan




POKOK-POKOK PIKIRAN PENERAPAN TEKNIK BEHAVIORAL COUNSELING

15 09 2009

TEKNIK BEHAVIORAL COUNSELINGTeori Dasar
1. Classical conditioning (Ivan P. Pavlov, John B. Watson, Joseph Wolpe)
2. Operant conditioning (Skinner)
3. Social learning (Albert Bandura)

Hakekat manusia
1. Manusia tidak dipandang secara instrinsik bisa baik atau buruk, tetapi melalui pengalaman, organisme mempunyai potensi untuk semua jenis tingkahlaku.
2. Manusia dapat mengkonsepkan dan sekaligus mengontrol tingkahlaku sendiri.
3. Manusia dapat mengembangkan tingkah laku baru.
4. Manusia dapat mempengaruhi tingkahlaku orang lain, begitu sebaliknya dapat dipengaruhi tingkahlaku orang lain.

Hakekat Masalah
1. Tingkahlaku maladaptif manusia merupakan hasil belajar.
2. Implikasi 1, sebenarnya tak ada tingkahlaku maladaptif, yang ada adalah tingkahlaku tepat (appropriate) atau tak tepat (inappropriate).
3. Implikasi 2, setiap tingkah laku membawa kepuasan atau sebaliknya ketidakpuasan. Tingkahlaku yang membawa ketidakpuasan merupakan masalah.
4. Dalam memandang masalah, dipakai hukum dasar behavioral yaitu hubungan stimulus dan respon.
5. Secara umum, masalah adalah “belajar secara salah”.

Proses dan Tujuan
Konseling behavioral menekankan pada tujuan ketimbang proses. Proses dirancang sesuai dengan tujuannya. Namun, sebagai patokan, ada enam langkah dasar yang diikuti dalam konseling behavioral:
1. Mengidentifikasi dan menyatakan tingkahlaku yang hendak diubah dalam istilah operasional.
2. Menentukan baseline dari tingkahlaku target yang diinginkan.
3. Menyusun situasi yang memungkinkan tingkahlaku target terjadi.
4. Mengidentifikasi stimulus atau peristiwa reinforcing yang potensial bagi tingkahlaku yang dipelajari.
5. Mereinforce tingkahlaku target yang diinginkan yang ditampilkan klien.
6. Mengevaluasi efek prosedur treatment.

Tujuan konseling seharusnya dirancang oleh klien, namun sebagai patokan secara umum konseling dimaksudkan untuk:
1. Mengubah tingkahlaku maladaptif klien melalui konseling;
2. Membantu klien mempelajari proses pengambilan keputusan yang lebih efisien;
3. Mencegah timbulnya masalah di kemudian hari;
4. Memecahkan masalah perilaku khusus yang dialami klien;
5. Mencapai perubahan tingkahlaku yang diterjemahkan ke dalam perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Peran dan Fungsi Konselor
1. Utama: (a) mengajar, (b) memberikan reinforcement kepada klien yang mengembangkan perilaku baru, (c) dalam belajar sosial, sebagai model.
2. Tambahan: (a) mengajar partisipan tentang proses , (b) membantu klien mengembangkan tujuan khusus dan jelas, (c) memberi gambaran betapa luasnya jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai suatu tujuan, (d) mengajar klien untuk membawa rencana yang dibuat dalam ke dalam kehidupan sehari-hari, dan (e) mengevaluasi teknik yang digunakan.

Teknik-Teknik Konseling
1. Desensitisasi Sistematis
• Dasar: classical conditioning (Wolpe, Pavlov, Watson)
• Masalah klien: kecemasan

2. Latihan Asertif (Ketegasan)
• Dasar: Social Skills (Alberti & Emmons)
• Masalah klien:
– orang tak dapat mengekspresikan kemarahannya
– orang yang tak bisa mengatakan “tidak”
– orang yang terlampau sopan dan selalu ingin menyenangkan orang lain
– orang yang susahmenyatakan perasaan dan respon-respon positif terhadap orang lain
– orang yang merasa tak memiliki hak untuk menyatakan pikiran, keyakinan, dan perasaannya.

3. Pengelolaan Diri (Self Management)
• Dasar: Cognitive behavior therapy
• Masalah klien:
– bagaimana mengontrol diri untuk merokok, minum minuman keras, narkoba,
– bagaimana mengelola waktu belajar
– bagaimana mengelola makan (kasus kegemukan).

4. Percontohan (Modeling)
• Dasar: Social Learning (Albert Bandura)
• Masalah:
– belajar perilaku baru
– memperkuat perilaku yang lemah





PENDEKATAN HUMANISTIK

15 09 2009

Pendekatan yang Humanistik mulai dalam menanggapi keprihatinan yang dirasakan oleh para terapis terhadap keterbatasan dari teori-teori psikodinamik, khususnya psikoanalisis. Individu-individu seperti Carl Rogers dan Abraham Maslow merasa ada (psikodinamik) teori memadai gagal menangani masalah-masalah seperti makna perilaku, dan sifat pertumbuhan yang sehat . Namun, hasilnya tidak hanya variasi baru pada teori psikodinamik, melainkan pendekatan baru yang mendasar.
Ada beberapa faktor yang membedakan Pendekatan Humanistik dari pendekatan-pendekatan lain dalam psikologi, termasuk penekanan pada makna subjektif, penolakan terhadap determinisme, dan kepedulian terhadap pertumbuhan positif daripada patologi. Sementara orang mungkin berpendapat bahwa beberapa teori psikodinamik memberikan visi pertumbuhan yang sehat (termasuk konsep Jung individuasi), yang lain membedakan karakteristik Pendekatan Humanistik dari setiap pendekatan lain dalam psikologi (dan kadang-kadang menyebabkan teori dari pendekatan-pendekatan lain untuk mengatakan Humanistik Pendekatan ini tidak ilmu sama sekali). Kebanyakan psikolog percaya bahwa perilaku hanya dapat dipahami secara obyektif (oleh pengamat yang netral), tetapi humanis berpendapat bahwa hasil ini dalam menyimpulkan bahwa seorang individu tidak mampu memahami perilaku mereka sendiri – suatu pandangan yang mereka lihat sebagai paradoks baik dan berbahaya untuk baik kesehatan. Sebaliknya, humanis seperti Rogers berpendapat bahwa makna pada dasarnya perilaku pribadi dan subjektif; mereka lebih jauh berpendapat bahwa menerima ide ini tidak ilmiah, karena pada akhirnya semua individu adalah subjektif: apa yang membuat ilmu pengetahuan tidak dapat dipercaya bahwa para ilmuwan yang murni objektif, tetapi bahwa sifat dari kejadian yang diamati dapat disepakati oleh berbagai pengamat (suatu proses verifikasi intersubjektif panggilan Rogers).
Masalah-masalah yang mendasari Pendekatan Humanistik, dan perbedaan dari pendekatan lain, akan dibahas lebih lengkap dalam teks, namun sumber-sumber yang berguna di bawah ini memberikan informasi tambahan. Satu hal patut dicatat: jika Anda ingin benar-benar memahami sifat Pendekatan Humanistik, Anda tidak dapat mempertimbangkan dalam istilah abstrak. Sebaliknya, Anda harus mempertimbangkan apakah dan bagaimana ide-ide berhubungan dengan pengalaman Anda sendiri – untuk itu adalah bagaimana makna perilaku ini berasal
ASUMSI DASAR MANUSIA MENURUT PENDEKATAN HUMANISTIK
1. Manusia adalah makhluk yang baik dan dapat dipercaya
Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang baik dan berupaya menjalin hubungan yang bermakna dan konstruktif dengan orang lain.
2. Manusia lebih bijak daripada inteleknya
Manusia lebih bijak dari pikiran-pikiran yang disadarinya bilamana manusia berfungsi dengan cara yang baik dan tidak disentrif.

3. Manusia adalah makhluk yang mengalami
Yaitu makhluk yang memikirkan, berkehendak, merasakan dan mempertanyakan. Rogers yakin bahwa inti dari kehidupan yang bernilai terletak dalam mengalami sebagai pribadi yang mendalam.
4. Kehidupan ada pada saat ini, kehidupan ialah hidup sekarang
Kehidupan itu lebih dari sekedar tingkah laku otonistik yang ditentukan oleh peristiwa masa lalu, dan nilai kehidupan terletak pada saat sekarang, bukan pada masa lalu atau pada saat yang akan datang.
5. Manusia adalah makhluk yang bersifat subyektif
Tingkah laku manusia hanya dapat dipahami berdasarkan dunia subyektifnya, yaitu bagaimana individu itu memandang diri dan lingkungannya.
6. Hubungan manusiawi yang mendalam merupakan salah satu kebutuhan yang terpokok manusia
Meningkatkan hubungan antar pribadi yang mendalam memiliki potensi yang sangat besar sebagai sumber kesejahteraan mental manusia.
7. Manusia memiliki kecenderungan kearah aktualisasi
Kecenderungan manusia adalah bergerak ke arah pertumbuhan, kesehatan, penyesuaian, sosialisasi, realisasi diri, kebebasan dan otonomi.

HAKIKAT TINGKAH LAKU NORMAL MANURUT PENDEKATAN HUMANISTIK
Pribadi sehat menurut carl rogers diistilahkan pribadi yang berfungsi secara penuh merupakan pribadi yang ideal dengan karakteristik seperti di bawah ini :
1. keserasian, keserasian antara diri dan pengalaman
manusia merevisi gambaran dirinya agar serasi dengan pengalamannya dan dilambangkan dengan tepat
2. keterbukaan terhadap pengalaman
bila individu berada dalam keadaan bebas ancaman, maka ia akan terbuka terhadap pengalamannya. Terbuka terhadap pengalaman adalah kebalikan dari sikap mempertahankan diri. Hal ini berarati, bahwa setiap stimulus baik yang berasal dari organisme atau dari lingkungan dapat disampaikan secara bebas melalui sistem saraf tanpa dikaburkan atau disalurkan menggunakan defence mechanisem.
3. penyesuaian diri secara psikologis
penyesuaian diri secara psikologis yang optimal akan terjadi bilamana semua pengalaman dapat diasimilasikan pada tingkat simbolik ke dalam keseluruhan struktur diri.
4. eksistensionalitas
individu cenderung melihat pengalaman dalam istilah yang didiferensiasi (dipilah-pilah), menyadari adanya perbedaan ruang dan waktu, mendasarkan diri pada fakta, menilai dengan berbagai cara, menyadari tingkat-tingkat abstraksi yang berbeda, menguji kesimpulan dan abstraksi dalam realita.
5. matang, kematangan (mature, maturity)
individu dikatakan menunjukkan tingkah laku yang matang bilamana ia mempersepsi diri secara realistis, tidak defensif, menerima tanggung jawab, mengevaluasi pengalaman berdasarkan dari penginderaannya sendiri, menerima orang lain sebagai individu yang berbeda dari dirinya dan menghargai diri dan orang lain.

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN DARI SUDUT :
Berdasarkan baik cukup kurang
1. inclussivenessnya v
2. verifikasi
3. kemampuan prediksi

Keterangan kolom :
1. pada kolom inclussivenessnya dikatakan baik karena pendekatan humanistik sangat mungkin digunakan oleh konselor karena pendekatan ini menekankan pentingnya memahami konseli dari pribadi ke pribadi yang mana hal tersebut merupakan tujuan dari proses konseling yang dilakukan oleh konselor dalam membantu konseli.
2. pada kolom verifikasi dikatakan baik karena pendekatan humanistik bersifat fleksibel yang mana dalam aplikasinya tidak memiliki teknik- teknik yang ditentukan secara tepat namun bisa diintegrasi dari pendekatan- pendekatan lain seperti Gestalt, Analisis transaksional, Psikoanalitik dan lain- lain.
3. pada kolom tingkat kemampuan prediksi dikatakan baik karena pendekatan huamnistik sangat menekankan keharusan konselor terlibat dengan konseli sebagai suatu pribadi yang menyeluruh sehinnga dengan menggunakan pendekatan humanistik ini tingkah laku konseli dapat diprediksi karena menekankan pemahaman dari pribadi ke pribadi.

CONTOH PERILAKU BERMASALAH
1. Sering merasa cemas karena masalah kecil atau pikiran pribadi.
2. merasa terancam oleh keadaan yang berlebihan.
3. susah menyesuaikan diri secara psikologis dengan lingkungan.
4. sering menganggap dirinya yang sekarang kurang ideal