THOUGHT STOPPING

29 09 2009

MENGENDALIKAN PIKIRAN NEGATIF DENGAN THOUGHT STOPPING

Lutfi Fauzan

Seorang mahasiswi didera kecemasan kronis karena sudah tiga semester mengerjakan skripsi namun belum tampak harapan terang untuk segera selesai. Pinginnya sih segera selesai, menikmati senangnya diwisuda dengan diantar keluarga, foto bersama keluarga dan calon pendamping, bekerja dan menikah. Orang tua sering menanyakan, “Kapan kamu selesai nak? Bapakmu sudah pensiun, kita semakin berat menyediakan biaya…” Apa daya kemajuan ke arah penyelesaian tugas akhir kuliah tersebut masih tersendat-sendat. Kesulitan yang ia alami bukan sekedar segi akademik melainkan problem emosional. Ia mendapat pembimbing skripsi yang cara berbicara dan raut wajahnya sepintas seperti ayahnya. Hal ini mengingatkannya pada masa kecil dalam pengasuhan orang tua. Bapaknya memiliki gaya otoriter, apa yang dikatakan tidak boleh dibantah atau ia akan mendapat bentakan yang lebih keras dan pukulan fisik.

Ada pengalaman yang sangat membekas, ketika adiknya melakukan kesalahan ternyata ia yang disalahkan. Ia ingin memberikan penjelasan tetapi tidak diberi kesempatan. ”Saya dijadikan tertuduh, sakit rasa hati saya. Semasa kecil Saya sering berharap seandainya ayah mati atau tidak pernah ada”. Ketika Saya respon, ”Kalau ayah nggak pernah ada, kan kamu nggak akan ada juga…” ia tertawa menyadari kekonyolannya. Dengan latar belakang pengalaman masa kecil seperti itu, sekarang setiap berhadapan dengan pembimbing skripsi ia merasakan seperti berhadapan dengan ayahnya. Takut untuk membantah (benar-benar tidak ada khazanah respon, SAPA TAKUT?!). Setiap mau berbicara untuk memperoleh penjelasan lebih gamblang tentang maksud pak pembimbing rasanya mulut terkatup dengan kuat, kecuali mengatakan ”Ya Pak” dan ”Ya Pak”, termasuk ketika pak pembimbing berbicara hal-hal filosofis yang ia tidak nyambung sama sekali, cilakak lah. Pandangan yang belum teruji, seperti: ”orang ini seperti ayah saya”, ”saya tidak boleh membantahnya”, ”dia tidak mungkin mengerti saya” diikuti cemas dan anggapan dalam pola ”jangan-jangan ….” membuat dia tidak bisa mengembangkan komunikasi yang berimbang dan sehat. Oleh karena yang dikatakan pembimbing sering merupakan hal-hal yang baru, maka ia merasakan tuntutannya selalu berkembang. Ia sudah melacak ke internet, mencari bahan pustaka ke beberapa perpustakaan PT di Surabaya (daerah asalnya) dan UGM Yogyakarta sampai harus menginap di kota tersebut (untung diantar ayahnya), namun belum terpenuhi. Dengan berderai air mata ia tumpahkan keluhan dan segala perasaan yang mendera. Saya pun memberi kesempatan kepadanya untuk menangis. Lupa membawa sapu tangan, Saya berikan tissue yang senantiasa tersedia di ruang konseling — di ruang konseling tidak dilarang menangis, dan tidak perlu malu, bahkan konselor menganjurkan untuk menangis jika ingin menangis agar terjadi proses pelegaan.

Tangisan bisa melegakan namun belum menyelesaikan semua persoalan, sebab belum menukik pada pengelolaan sumber masalah. Dengan tangisan sebagian beban emosional berkurang tetapi problem emosional akan kembali muncul dan mengganggu sebelum diselesaikan. Pada kasus di atas problem emosional bersumber pada adanya pikiran yang negatif: bayang-bayang sikap dan perlakuan ayah di masa lalu. Setiap kali menemui pembimbing, yang muncul adalah bayangan perlakuan ayah semasa kecil dan respon yang dikhawatirkan akan ia terima. Bayangan dan kekhawatiran ini merupakan pikiran negatif yang menghambat pertumbuhan pribadi pada umumnya. Masalah ini dapat diatasi dengan teknik thought stopping, dan biasanya diikuti dengan cognitive restructuring (Insya Allah dibahas pada terbitan berikutnya).

Mengaplikasikan Thought Stopping pada Diri
Thought stopping merupakan keterampilan memberikan instruksi kepada diri sendiri (swaperintah) untuk menghentikan alur pikiran negatif melalui penghadiran rangsangan atau stimulus yang mengagetkan. Mengapa diperlukan stimulus yang mengagetkan, didasarkan pada pandangan bahwa pikiran itu ketika beroperasi akan berjalan seperti aliran sungai. Aliran pikiran ini dapat dibuyarkan atau dihambat jalannya sehingga terputus melalui cara pemblokiran. Secara sederhana dapat diberikan contoh yang biasa terjadi pada orang yang sedang melamun. Ketika melamun, kita terbawa oleh aliran angan-angan. Begitu ada yang mengagetkan, misalnya: ada yang menegur, ”Heh ngelamun aja!” atau ada yang mendorong punggung kita dengan mengatakan, ”Harri giinih ngelamunria” maka kita kembali pada kesadaran, melamun tidak berlanjut. Begitu kan menurut pengalaman Anda? Demikian halnya dengan pikiran negatif yang mengganggu seseorang. Pemunculannya dapat diblokir atau dikacaukan alirannya dengan instruksi ”TIDAK” atau ”STOP”. Maksudnya setiap muncul pikiran negatif yang mengganggu yang menimbulkan masalah emosional dan perilaku dapat kita hentikan dengan menyengaja menghentikan dengan mengatakan tidak atau stop pada diri kita sendiri. Jika hal itu dilatihkan dan dilakukan berulang-ulang, maka akan terbentuk semacam mekanisme kendali pada diri kita setiap kali muncul pikiran negatif. Pikiran negatif itu dengan serta merta berhenti dan tidak mengganggu emosi dan kewajaran perilaku kita lagi.

Model Penghentian
Ada dua macam cara menghentikan pikiran negatif: overt dan covert. Cara yang pertama menghentikannya dengan mengucapkan (bersuara) kata-kata ”STOP” atau ”TIDAK”, sedangkan yang ke dua dengan isyarat atau niatan batin saja. Melalui isyarat, misalnya dengan menepuk atau mencubit anggota tubuh tertentu. Keduanya juga dapat diterapkan secara bersama, kata-kata dan isyarat.
Untuk sampai pada tinagkat terampil dan efektif penggunaannya kita bisa melatihnya. Langkahnya mulailah dengan menciptakan keadaan rileks. Bila kondisi rileks tercapai mulailah munculkan pikiran negatif yang selama ini sering muncul dan mengganggu Anda. Biarkan beberapa saat pikiran itu menari-nari di panggung pikiran Anda. Kemudian ucapkanlah kata ”STOP” diikuti isyarat ke tubuh dengan niat menghentikan pikiran itu. Lakukan hal ini berulang-ulang sehingga menjadi siap pada saat diperlukan. Selamat mencoba.

Telah dimuat pada Majalah Kampus UM, KOMUNIKASI Nomor 250 Juni-Juli 2007





KONTRAK PERILAKU

29 09 2009

Memberdayakan Behavior Contracts untuk Melesatkan Perkembangan Pribadi

Lutfi Fauzan

Bertanyalah kepada setiap pelajar-mahasiswa mengenai nilai belajar tertib dan disiplin, jawabannya sama “itu penting dan bagus”, tetapi apakah mereka telah mewujudkan kebiasaan belajar tertib dan disiplin? Bertanyalah kepada setiap perokok berkenaan dengan pengaruhnya terhadap kesehatan, jawabannya hampir seragam “itu buruk bagi kesehatan”, tetapi apakah mereka dengan mudah bisa meninggalkan kebiasaan merokoknya. Berkali-kali mencoba, namun selalu gagal maning, gagal maning. Seorang mahasiswa juga merasa hampir kehilangan kepercayaan terhadap dirinya karena dia merasa punya keinginan mengubah diri, lebih tertib kuliah (pada saat konsultasi sudah semester 12) tetapi selalu berhenti di tengah jalan. Pada awal semester dapat tertib mengikuti kuliah, namun mulai masuk pertengahan, caapek deech…, selalu tergoda dengan kegiatan-kegiatan lain dan pada akhirnya tidak masuk kuliah sama sekali. Demikian berulang selama beberapa semester. Mahasiswa tersebut mengalami masalah disiplin diri (self-discipline). Kemauannya untuk mendisiplinkan diri rendah, dan ini dapat dibantu dengan kontrak perilaku.

Kontrak perilaku (behavior contracts) adalah perjanjian dua orang ataupun lebih untuk berperilaku dengan cara tertentu dan untuk menerima hadiah bagi perilaku itu. Kontrak ini menegaskan harapan dan tanggung jawab yang harus dipenuhi dan konsekuensinya. Kontrak dapat menjadi alat pengatur pertukaran reinforcement positif antarindividu yang terlibat. Strukturnya merinci siapa yang harus melakukan, apa yang dilakukan, kepada siapa dan dalam kondisi bagaimana hal itu dilakukan, serta dalam kondisi bagaimana dibatalkan.

Asumsi dasar pada kontrak perilaku:
Ada empat asumsi dasar bagi pemberdayaan kontrak untuk pengembangan pribadi: (1) Menerima reinforcement adalah hal istimewa dalam bubungan interpersonal, dalam arti, seseorang mendapat kenikmatan atas persetujuan orang lain. (2) Perjanjian bubungan interpersonal yang efektif diatur oleh norma saling membalas. Ini berarti setiap orang mempunyai hak dan kewajiban untuk membalas hadiah. (3) Nilai pertukaran interpersonal merupakan fungsi langsung dari kecepatan, rentangan, dan besaran reinforcement positif yang diperantarai oleh pertukaran itu. Memaksimalkan pemberian reinforcement positif memungkinkan untuk memperoleh reinforcement yang lebih besar. (4) Aturan-aturan tetap memberikan kebebasan dalam pertukaran interpersonal. Meskipun aturan (dalam kontrak) membatasi perilaku, tetapi tetap memberikan kebebasan pada individu untuk mengambil keuntungan.

Pada aplikasinya dalam dunia helping syarat-syarat dalam memantapkan kontrak perilaku adalah: adanya batasan yang cermat mengenai masalah klien, situasi dimana masalah itu muncul, dan kesediaan klien untuk mencoba suatu prosedur. Selain itu tugas yang harus mereka lakukan perlu dirinci, dank kriteria sukses disebutkan serta reinforcement-nya ditentukan. Kalau semua itu ada, kontrak akan dapat dimantapkan melalui reinforcement yang cukup dekat dengan tugas dan kriterium yang diharapkan.

Self-contract
Apakah kontrak perilaku hanya dapat dimanfaatkan dalam hubungan helping yang melibatkan interaksi helper dan helpee, konselor-konseli, psikolog-konsulti, psikiater-pasien? Tidak! Kontrak perilaku dapat diberdayakan secara mandiri, yang ini disebut sebagai self-contract (swakontrak). Ketika Anda merasakan adanya penurunan motivasi belajar atau kerja, kerancuan orientasi, kekacauan fokus, ketidakjelasan minat, dan berbagai kegamangan sikap, akan bermanfaat kalau Anda mencoba untuk membuat kontrak pribadi, kontrak perilaku yang dikelola sendiri (swakontrak). Anda juga dapat memutuskan untuk membuat kontrak pribadi guna menghilangkan kebiasaan yang tidak dikehendaki, seperti: kecanduan rokok, bahkan narkoba (tapi yang disebut terakhir ini janganlah menimpa Anda), kebiasaan bangun dan masuk kuliah terlambat, menunda-nunda penyelesaian tugas, malas mandi dan lain-lain.

Saran-saran yang perlu diperhatikan untuk merumuskan swakontrak bagi pengembangan perilaku diri adalah:
Baca Lanjutannya…

Tinggalkan sebuah Komentar

Ditulis dalam Pengembangan Pribadi
Oleh: lutfifauzan | Agustus 9, 2009
Thought Stopping

MENGENDALIKAN PIKIRAN NEGATIF DENGAN THOUGHT STOPPING

Lutfi Fauzan

Seorang mahasiswi didera kecemasan kronis karena sudah tiga semester mengerjakan skripsi namun belum tampak harapan terang untuk segera selesai. Pinginnya sih segera selesai, menikmati senangnya diwisuda dengan diantar keluarga, foto bersama keluarga dan calon pendamping, bekerja dan menikah. Orang tua sering menanyakan, “Kapan kamu selesai nak? Bapakmu sudah pensiun, kita semakin berat menyediakan biaya…” Apa daya kemajuan ke arah penyelesaian tugas akhir kuliah tersebut masih tersendat-sendat. Kesulitan yang ia alami bukan sekedar segi akademik melainkan problem emosional. Ia mendapat pembimbing skripsi yang cara berbicara dan raut wajahnya sepintas seperti ayahnya. Hal ini mengingatkannya pada masa kecil dalam pengasuhan orang tua. Bapaknya memiliki gaya otoriter, apa yang dikatakan tidak boleh dibantah atau ia akan mendapat bentakan yang lebih keras dan pukulan fisik.

Ada pengalaman yang sangat membekas, ketika adiknya melakukan kesalahan ternyata ia yang disalahkan. Ia ingin memberikan penjelasan tetapi tidak diberi kesempatan. ”Saya dijadikan tertuduh, sakit rasa hati saya. Semasa kecil Saya sering berharap seandainya ayah mati atau tidak pernah ada”. Ketika Saya respon, ”Kalau ayah nggak pernah ada, kan kamu nggak akan ada juga…” ia tertawa menyadari kekonyolannya. Dengan latar belakang pengalaman masa kecil seperti itu, sekarang setiap berhadapan dengan pembimbing skripsi ia merasakan seperti berhadapan dengan ayahnya. Takut untuk membantah (benar-benar tidak ada khazanah respon, SAPA TAKUT?!). Setiap mau berbicara untuk memperoleh penjelasan lebih gamblang tentang maksud pak pembimbing rasanya mulut terkatup dengan kuat, kecuali mengatakan ”Ya Pak” dan ”Ya Pak”, termasuk ketika pak pembimbing berbicara hal-hal filosofis yang ia tidak nyambung sama sekali, cilakak lah. Pandangan yang belum teruji, seperti: ”orang ini seperti ayah saya”, ”saya tidak boleh membantahnya”, ”dia tidak mungkin mengerti saya” diikuti cemas dan anggapan dalam pola ”jangan-jangan ….” membuat dia tidak bisa mengembangkan komunikasi yang berimbang dan sehat. Oleh karena yang dikatakan pembimbing sering merupakan hal-hal yang baru, maka ia merasakan tuntutannya selalu berkembang. Ia sudah melacak ke internet, mencari bahan pustaka ke beberapa perpustakaan PT di Surabaya (daerah asalnya) dan UGM Yogyakarta sampai harus menginap di kota tersebut (untung diantar ayahnya), namun belum terpenuhi. Dengan berderai air mata ia tumpahkan keluhan dan segala perasaan yang mendera. Saya pun memberi kesempatan kepadanya untuk menangis. Lupa membawa sapu tangan, Saya berikan tissue yang senantiasa tersedia di ruang konseling — di ruang konseling tidak dilarang menangis, dan tidak perlu malu, bahkan konselor menganjurkan untuk menangis jika ingin menangis agar terjadi proses pelegaan.

Tangisan bisa melegakan namun belum menyelesaikan semua persoalan, sebab belum menukik pada pengelolaan sumber masalah. Dengan tangisan sebagian beban emosional berkurang tetapi problem emosional akan kembali muncul dan mengganggu sebelum diselesaikan. Pada kasus di atas problem emosional bersumber pada adanya pikiran yang negatif: bayang-bayang sikap dan perlakuan ayah di masa lalu. Setiap kali menemui pembimbing, yang muncul adalah bayangan perlakuan ayah semasa kecil dan respon yang dikhawatirkan akan ia terima. Bayangan dan kekhawatiran ini merupakan pikiran negatif yang menghambat pertumbuhan pribadi pada umumnya. Masalah ini dapat diatasi dengan teknik thought stopping, dan biasanya diikuti dengan cognitive restructuring (Insya Allah dibahas pada terbitan berikutnya).

Mengaplikasikan Thought Stopping pada Diri
Thought stopping merupakan keterampilan memberikan instruksi kepada diri sendiri (swaperintah) untuk menghentikan alur pikiran negatif melalui penghadiran rangsangan atau stimulus yang mengagetkan. Mengapa diperlukan stimulus yang mengagetkan, didasarkan pada pandangan bahwa pikiran itu ketika beroperasi akan berjalan seperti aliran sungai. Aliran pikiran ini dapat dibuyarkan atau dihambat jalannya sehingga terputus melalui cara pemblokiran. Secara sederhana dapat diberikan contoh yang biasa terjadi pada orang yang sedang melamun. Ketika melamun, kita terbawa oleh aliran angan-angan. Begitu ada yang mengagetkan, misalnya: ada yang menegur, ”Heh ngelamun aja!” atau ada yang mendorong punggung kita dengan mengatakan, ”Harri giinih ngelamunria” maka kita kembali pada kesadaran, melamun tidak berlanjut. Begitu kan menurut pengalaman Anda? Demikian halnya dengan pikiran negatif yang mengganggu seseorang. Pemunculannya dapat diblokir atau dikacaukan alirannya dengan instruksi ”TIDAK” atau ”STOP”. Maksudnya setiap muncul pikiran negatif yang mengganggu yang menimbulkan masalah emosional dan perilaku dapat kita hentikan dengan menyengaja menghentikan dengan mengatakan tidak atau stop pada diri kita sendiri. Jika hal itu dilatihkan dan dilakukan berulang-ulang, maka akan terbentuk semacam mekanisme kendali pada diri kita setiap kali muncul pikiran negatif. Pikiran negatif itu dengan serta merta berhenti dan tidak mengganggu emosi dan kewajaran perilaku kita lagi.

Model Penghentian
Ada dua macam cara menghentikan pikiran negatif: overt dan covert. Cara yang pertama menghentikannya dengan mengucapkan (bersuara) kata-kata ”STOP” atau ”TIDAK”, sedangkan yang ke dua dengan isyarat atau niatan batin saja. Melalui isyarat, misalnya dengan menepuk atau mencubit anggota tubuh tertentu. Keduanya juga dapat diterapkan secara bersama, kata-kata dan isyarat.
Untuk sampai pada tinagkat terampil dan efektif penggunaannya kita bisa melatihnya. Langkahnya mulailah dengan menciptakan keadaan rileks. Bila kondisi rileks tercapai mulailah munculkan pikiran negatif yang selama ini sering muncul dan mengganggu Anda. Biarkan beberapa saat pikiran itu menari-nari di panggung pikiran Anda. Kemudian ucapkanlah kata ”STOP” diikuti isyarat ke tubuh dengan niat menghentikan pikiran itu. Lakukan hal ini berulang-ulang sehingga menjadi siap pada saat diperlukan. Selamat mencoba.

Telah dimuat pada Majalah Kampus UM, KOMUNIKASI Nomor 250 Juni-Juli 2007





STUDI KASUS 1

28 09 2009

alam era kemajuan informasi dan teknologi, siswa semakin tertekan dan terintimidasi oleh perkembangan dunia akan tetapi belum tentu dimbangi dengan perkembangan karakter dan mental yang mantap.

Seorang Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor mempunyai tugas yaitu membantu siswa untuk mengatasi permasalahan dan hambatan dan dalam perkembangan siswa.

Setiap siswa sebenarnya mempunyai masalah dan sangat variatif. Permasalahan yang dihadapi siswa dapat bersifat pribadi, sosial, belajar, atau karier. Oleh karena keterbatasan kematangan siswa dalam mengenali dan memahami hambatan dan permasalahan yang dihadapi siswa, maka konselor – pihak yang berkompeten – perlu memberikan intervensi. Apabila siswa tidak mendapatkan intervensi, siswa mendapatkan permasalahan yang cukup berat untuk dipecahkan. Konselor sekolah senantiasa diharapkan untuk mengetahui keadaan dan kondisi siswanya secara mendalam.

Untuk mengetahui kondisi dan keadaan siswa banyak metode dan pendekatan yang dapat digunakan, salah satu metode yang dapat digunakan yaitu studi kasus (Case Study). Dalam perkembangannya, oleh karena kompleksitas permasalahan yang dihadapi siswa dan semakin majunya pengembangan teknik-teknik pendukung – seperti hanya teknik pengumpulan data, teknik identifikasi masalah, analisis, interpretasi, dan treatment – metode studi kasus terus diperbarui.

Studi kasus akan mempermudah konselor sekolah untuk membantu memahami kondisi siswa seobyektif mungkin dan sangat mendalam. Membedah permasalahan dan hambatan yang dialami siswa sampai ke akar permasalahan, dan akhirnya konselor dapat menentukan skala prioritas penanganan dan pemecahan masalah bagi siswa tersebut.

Pengertian Studi Kasus

Kamus Psikologi (Kartono dan Gulo, 2000) menyebutkan 2 (dua) pengertian tentang Studi kasus (Case Study) pertama Studi kasus merupakan suatu penelitian (penyelidikan) intensif, mencakup semua informasi relevan terhadap seorang atau beberapa orang biasanya berkenaan dengan satu gejala psikologis tunggal. Kedua studi kasus merupakan informasi-informasi historis atau biografis tentang seorang individu, seringkali mencakup pengalamannya dalam terapi. Terdapat istilah yang berkaitan dengan case study yaitu case history atau disebut riwayat kasus, sejarah kasus. Case history merupakan data yang terimpun yang merekonstruksikan masa lampau seorang individu, dengan tujuan agar orang dapat memahami kesulitan-kesulitannya yang sekarang . serta menolongnya dalam usaha penyesuaian diri (adjustment) (Kartini dan Gulo, 2000).

Berikut ini definisi studi kasus dari beberapa pakar dalam Psikologi dan Bimbingan Konseling, yaitu ;

Studi kasus adalah suatu teknik mempelajari seorang individu secara mendalam untuk membantu memperoleh penyesuaian diri yang lebih baik. (I.Djumhur, 1985).

Studi kasus adalah suatu metode untuk mempelajari keadaan dan perkembangan seorang murid secara mendalam dengan tujuan membantu murid untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik (WS. Winkel, 1995).

Studi kasus adalah metode pengumpulan data yang bersifat integrative dan komprehensif. Integrative artinya menggunakan berbagai teknik pendekatan dan bersifat komprehensif yaitu data yang dikumpulkan meliputi seluruh aspek pribadi individu secara lengkap (Dewa Ketut Sukardi, 1983).

Studi kasus merupakan teknik yang paling tepat digunakan dalam pelayanan bimbingan dan konseling karena sifatnya yang komprehensif dan menyeluruh. Studi kasus menggunakan hasil dari bermacam-macam teknik dan alat untuk mengenal siswa sebaik mungkin, merakit dan mengkoordinasikan data yang bermanfaat yang dikumpulkan melalui berbagai alat. Data itu meliputi studi yang hati-hati dan interpretasi data yang berhubungan dan bertalian dengan perkembangan dan problema serta rekomendasi yang tepat.

Jadi berdasarkan pembahasan di atas dapat dikatakan bahwa studi kasus adalah suatu studi atau analisa komprehensif dengan menggunakan berbagai teknik. Bahan dan alat mengenai gejala atau ciri-ciri/karakteristik berbagai jenis masalah atau tingkah laku menyimpang, baik individu maupun kelompok. Analisa itu mencakup aspek-aspek kasus seperti jenis, keluasan dan kedalaman permasalahannya, latar belakang masalah (diagnosis) dan latar depan (prognosis), lingkungan dan kondisi individu/kelompok dan upaya memotivasi terungkapnya masalah kepada guru pembimbing (konselor) sebagai orang yang mengkaji kasus. Data yang telah didapatkan oleh konselor kemudian dinvertaris dan diolah sedemikian rupa hingga mudah untuk diinterpretasi masalah dan hambatan individu dalam penyesuaiannya.

Tujuan Studi Kasus

Studi Kasus diadakan untuk memahami siswa sebagai individu dalam keunikannya dan dalam keseluruhannya. Kemudian dari pemahaman dari siswa yang mendalam, konselor dapat membantu siswa untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik. Dengan penyesuian pada diri sendiri serta lingkungannya, sehingga siswa dapat menghadapi permasalahan dan hambatan hidupnya, dan tercipta keselarasan dan kebahagiaan bagi siswa tersebut.

Sasaran Studi kasus

Sasaran studi kasus adalah individu yang menunjukan gejala atau masalah yang serius, sehingga memerlukan bantuan yang serius pula. Yang biasanya dipilih menjadi sasaran bagi suatu studi kasus adalah murid yang menjadi suatu problem (problem case); jadi seorang murid membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan lebih baik, asal murid itu dalam keadaan sehat rohani/ tidak mengalami gangguan mental.

sumber : http://obedan.wimamadiun.com/studi-kasus-bimbingan-konseling/





REINFORCE BELAJAR

16 09 2009

Ide utama dalam psikologi behavioral yang diaplikasikan pada pendidikan adalah yang berkaitan dengan reinforcement. Reinforcement adalah konsekuensi dari tin-dakan yang membuat tindakan tersebut cenderung akan diulangi. Orang yang tidak memahami hal ini kadang membuat kesalahan dengan mengatakan,”Behaviorisme tidak bekerja dengan baik. Saya telah memberinya reinforcement tetapi tak ada yang terjadi.” Sesuatu bukan merupakan reinforcement kecuali bekerja dengan baik, mi-salnya, kecuali ia merubah behavior. Yang diamaksud orang-orang disini adalah bah-wa mereka bermaksud untuk mereinforce behavior yang mereka inginkan tetapi se-sungguhnya mereka tidak melakukannya. “Reinforcement” sama dengan kata “re-ward”. Idenya sederhana tetapi ragam jenis dan tekniknya kadang kompleks dan me-ngejutkan. Ini dalah salah satu kompleksitasnya: Apakah sesuatu direinforce atau tidak bergantung pada orangnya dan ini bisa beragam dari waktu ke waktu pada orang yang sama. Seseorang tak bisa begitu saja mendaftar obyek, aktivitas, perasaan, atau hubungan yang merupakan reinforcer atau bukan. Bukti dari reinforcement dalam adonan behavioural adalah : Apakah behavior subsekuennya berubah ?

Ada berbagai cara untuk mengelompokkan reinforcement dan kategorinya tidak bersifat eksklusif. Perbedaan intrinsik/ekstrinsik didasarkan pada apakah behavior melakukan reinforcing sendiri atau apakah ia di-reinforce karena manfaat subsekuen yang bukan merupakan bagian integral dari behavior. Sebagai misal, rasa bangga akan prestasi, kepuasan karena keingin-tahuan telah terpenuhi, kesenangan dalam learning, kesenangan estetik, dan banyak aspek dari sex dan perasaan tubuh lain yang dinik-mati, bukan karena mereka mengarah pada extrinsic reward.

Cara kedua untuk mengelompokkan reinforcement adalah postive/negative. Dalam kedua kasus reinforcement membuatnya sama dengan behavior yang akan timbul lagi, dalam kasus positif karena ia menyenangkan dan dalam kasus negatif karena ia meng-hentikan situasi yang tidak disukai oleh seseorang. Senyum seorang guru, kata-kata penghagaan, semangat dari teman kelas, semuanya sama dengan fungsi sebagai po-sitive reinforcement, hal-hal tersebut cenderung membuat tindakan seseorang terjadi lagi. Perbedaan antara apa yang kita inginkan untuk direinforce dan apa yang sebe-narnya kita lakukan untuk me-reinforce adalah hal yang penting bagi guru dan orang tua.

Negative reinforcement juga membuat behavior lebih cenderung untuk timbul lagi karena siswa mendapat penghargan dari tindakannya dengan melepaskan diri dari situasi yang tidak menyenangkan yang dilingkupi kegelisahan dan perasaan bersalah. Sebegai misal, seorang anak yang menderita sakit perut dan diijinkan untuk me-ninggalkan sekolah pada hari ia harus menjalani tes telah dihargai karena sakitnya dengan melepaskan diri dari ujian.

Cara ketiga untuk mengelompokkan reninforcement adalah dengan melihat apakah mereka self-administered, social (datang dari orang lain), atau impersonal. Mahoney dan Thoreson menunjukkan satu cara untuk mengajarkan orang bagaimana mengem-bangkan behavioral skill bagi maksud intrinsik mereka sendiri. Sayangnya, para be-haviorist mempunyai reputasi dalam mengontrol orang lain. Artikel Mahoney-Thoreson menunjukkan satu pola baru dalam behaviorism: Setiap orang mempunyai controller sendiri. Orang yang melakukan kontrol terhadap reinforcement-nya sendiri adalah orang yang benar-benar independen. Behavioral self-control adalah satu cara untuk mencapai independensi. Ia bergantung pada pemilihan aktivitas yang secara intrinsik menghargai dan melakukan kontrol pada penghargaan ekstrinsik seseorang.

Social reinforcement berarti reinforcement yang datang dari orang lain seperti perhatian, penghargaan, senyum, menjawab pertanyaan, bicara, atau semua interaksi yang menyenangkan. Tampak jelas dalam daftar tersebut, sebagian besar dari inte-raksi harian kita dengan orang lain dapat direinforce; meski kita tidak menganggap mereka sebagai reinforcement pada saat itu. Satu kompleksitas lain dari behavioral psychology tampak ketika kita memperhatikan bahwa seseorang mempunyai banyak hubungan sosial yang terjadi pada satu saat.

  1. Reinforcement adalah ide yang paling penting dalam behavioral psychology yang diaplikasikan pada pendidikan. Ketika Freudian berpikir tentang human behavior, mereka akan segera bertanya,”Dimana ketidaksadaran timbul? Ktika para behaviorist merencanakan pendidikan, ketika mereka menjelaskan me-ngapa seseorang melakukan apa yang dia lakukan, dan ketika mereka belajar bagaimana mengajar, pertanyaan yang mereka tanyakan adalah “Behavior apa yang direinforce?” Pilih reinforcement yang sesuai (bila tidak berjalan de-ngan baik, pilih yang lainnya).
  2. Reinforcement harus datang setelah behavior. Hukum Nenek : Pertama makan sayuran, kemudian baru pencuci mulut.
  3. Reinforcement harus datang sesegera mungkin setelah behavior. Guru yang tidak mengembalikan makalah muridnya sama sekali atau menundanya dalam waktu yang lama telah melakukan kesalahan profesional.
  4. Banyak penghargaan kecil rasanya lebih baik dibanding satu yang besar.

Ada berbagai variasi dalam reinforcement. Punishment adalah lawan dari positive reinforcement. Banyak orang mengaburkannya dengan negative reinforcement. Da-lam negative reinforcement orang dihargai dengan melepaskan diri dari situasi yang tidak menyenangkan. Ada dua keanehan yang harus dilihat guru dalam memandang hukuman. Pertama, apa yang dianggap guru bahwa hukuman tersebut mempunyai ba-nyak elemen penghargaan didalamnya. Ini akan membawa masalah dalam penggu-naan hukuman; ia akan mereinforce guru dalam jangka waktu yang pendek. Biasanya ada penghentian dari behavior yang dihukum. Guru yang meraih perhatian kelas dapat membuat kelas sepi. Reaksi ini direinforce oleh guru dengan menggunakan hukuman. Bagaimanapun, kepatuhan ini hanya akan berlangsung sebentar dan murid akan bertindak lagi. Efek jangka pendek adalah untuk me-reinforce penggunaan hukuman dan efek jangka panjang adalah meningkatkan tindakan yang tak diinginkan. Guru di-reinforce secara negatif dengan menghentikan situasi yang tidak dia sukai (murid ber-keliling di kelas), dan murid direinforce secara negatif dengan melepaskan diri dari situasi yang tidak disukai (duduk dibangku dengan mengerjakan tugas).

Bisakah anda bayangkan orang tua yang mengatakan pada anaknya yang baru be-lajar bicara,”kau membuat kesalahan. Jangan bicara lagi sampai kau bisa mengucap-kannya dengan benar”? bila itu terjadi pada kita semua, mungkin kita takkan pernah belajar bicara. Apa yang dilakukan para orang tua secara alamiah adalah dengan me-reinforce anak-anak mereka pada setiap perkembangan ketika mereka belajar bicara. Pertama, mungkin melalui semua bunyi, kemudian hanya bunyi yang menyerupai ka-ta, kemudian kata yang tersusun dengan baik, dan seterusnya. Ini adalah proses shap-ing (pembentukan). Meski tujuan akhir ada dalam pikiran, biasanya perlu mengajar perilku yang diinginkan dengan memberi penghargaan pada tiap langkah kecil sepan-jang jalan. Dari sinilah bakat pengajaran yang asli kelihatan, yaitu dengan mengetahui kapan harus mereinforce dan kapan harus bergerak ke langkah selanjutnya.

Apa yang terjadi bila behavior tidak di-reinforce atau dipunish? Setelah sesaat ia akan menjadi berkurang dan berkurang. Ini adalah extinction. Pernahkan anda men-dengar nasihat, “Jangan hiraukan dia?” itulah extinction. Extinction seringkali sulit dilakukan karena membuat kita harus tidak mengeluarkan reaksi pada hal-hal yang biasanya menimbulkan reaksi. Tetapi sekali extinction dimulai, penting untuk melan-jutkannya.

Jenis extinction yang khusus adalah desensitization. Seperti dalam shaping, de-sensitization dilakukan dengan langkah-langkah kecil. Orang mulai desensitizasi sen-diri pada sesuatu yang sedikit mengganggunya, misalnya berbisik. Kemudian satu langkah setiap waktu, dia melakukannya pada hal-hal yang lebih besar, misalnya me-nyalakan dan mematikan lampu. Learning untuk melakukan toleransi pada satu situasi adalah cara lain yang terpikirkan tentang desensitizasi. Ini berguna untuk kondisi-kondisi semacam ketakutan yang tak beralasan dan contoh lain dari reaksi secara kebiasaan pada hal-hal yang orang belajar untuk tidak menghiraukannya.

Reinforcement dengan berbagai tipe, shaping, punishment, extinction, dan desen-sitization adalah cara-cara spesifik untuk mengajarkan banyak hal pada orang. Peng-gunaan salah satu atau kombinasi dari mereka disebut sebagai behavior modification. Kita tak punya pilihan untuk memutuskan apakah kita takkan menggunakan behavior modification, untuk segala sesuatu yang kita lakukan pada orang lain, atau tidak me-lakukannya, efek terhadap apa yang dia lakukan. Bila kita putuskan untuk menghargai beberapa behavior, bahkan hanya dengan senyuman, kita telah menghargainya. Dan bila kita memilih untuk mengabaikannya, kita akan mematikan tindakannya, atau me-ngajarkan padanya bahwa dia akan dihargai nanti setelah dia melakukannya dengan gigih. Tak ada jalan untuk tidak menggunakan behavior modificationGuru memberi reinforce pada murid.





REINFORCEMENT AND PUNISHMENT

16 09 2009

Reinforcement dan Punishment merupakan perlakuan pendidik kepada anak didiknya. reinforcement dan punishment juga merupakan strategi untuk mengajar dan mendidik siswa, namun, diantara kedua perlakuan tersebut manakah yang lebih baik dan bermanfaat? simak ulasan di bawah ini.

1. Reinforcement

Reinforcement dalam dunia pendidikan anak diartikan sebagai penghargaan yang diharapkan bisa meningkatkan sikap dan perkembangan positif pada anak didik. Biasanya reinforcement berupa hadiah dan pujian. Berikut adalah contohnya;

Hadiah kejutan untuk kesuksesan ulangan harian

Misalnya, anda adalah seorang ibu atau ayah yang sedang menjemput pulang anak anda. Di dalam perjalanan pulang atau boleh juga pada saat tiba di rumah, tanyakan pada anak anda apakah hari ini ada ulangan atau tidak, jika ada ulangan bagaimana hasilnya. misalnya anak anda mendapatkan nilai 8 atau 9, maka ajaklah anak anda untuk merayakan keberhasilannya mencapai nilai tersebut. Langkah ini telah terbukti mampu memacu semangat belajar siswa, maka di sinilah terjadi reinforcement. perlu diketahui bahwa untuk melakukan reinforcement tidak harus menunggu anak mendapatkan nilai 8 atau 9, namun berapapun nilainya, orang tua harus mensupport anak didik.

Ada beberapa wujud reinforcement yang sering dilakukan oleh pendidik. Pertama, reinforcement perayaan keberhasilan dengan memberikan hadiah berupa makanan, kedua, berupa ucapan selamat, dan ketiga berupa hadiah yang lain seperti menonton film kesukaannya, pergi piknik dsb.

Dari beberapa bentuk reinforcement di atas, manakah yang paling baik?

secara berurutan, reinforcement berupa ucapan selamat menempati urutan teratas, disusul pemberian hadiah seperti nonton film dan piknik, dan akhirnya berupa makanan.

Reinforcement atau bukan?

jika seorang guru memberikan iming iming pada anak didiknya bahwa si anak didik akan mendapat hadiah uang, permen, sampai kesempatan pulang terlebih dahulu, bukan merupakan reinforcement, karena mereka hanya akan tertarik pada permen atau kesempatan pulang lebih awal. perlakuan semacam ini hanya akan memberikan efek negatif.

Penerapan reinforcement yang benar adalah “tidak ada peraturan, atau syarat di awal” maksudnya tidak ada perjanjian sebelumnya, namun lebih pada sebuah kejutan bahwa mereka mendapat penghargaan setelah mereka menjalankan kerja keras mereka.

Tidak lagi reinforcement?

Pada sebuah kasus di mana sebuah kelas yang berisi 20 siswa sedang melakukan ujian harian, 3 dari siswa tersebut mendapatkan nilai 10. kemudian sang guru memberikan mereka kesempatan nonton film sesuai judul kesukaan mereka yang disediakan oleh sekolah. dari sini maka siswa yang lain tentunya akan mengetahui konsequensi mendapatkan nilai 10 bisa menonton film dengan judul sesuai pilihan. mereka kemudian ikut ikutan berpacu mendapatkan nilai 10. Nah, apakah peran reinforcement di sini sudah tidak asli reinforcement lagi? jawabnya adalah, dalam ilmu konseling ada istilah Social Learning Theory, dimana, siswa sebenarnya tidak termotivasi oleh nonton filmnya tetapi keinginan meniru keberhasilan orang lain, sehingga mereka terpacu untuk belajar lebih serius. Demikian, reinforcement masih memegang fungsi aslinya sebagai reinforcement.

perlu diketahui bahwa sebaiknya reinforcement tidak diberikan berupa hal yang sama secara berulang ulang, karena disini anak didik sudah  bisa menebak apa yang akan mereka dapatkan, sehingga reinforcement akan kehilangan nilai aslinya.

Selama bertahun tahun dalam kiprah sepak terjang perjalanan panjang sejarah pendidikan di Indonesia, para pendidik kita melupakan peran reinforcement yang sebenarnya sangat fundamental dalam membentuk kepribadian dan semangat belajar siswa. reinforcemet tidak harus mahal, karena reinforcement yang paling baik adalah dengan kekuatan kata kata yang membangun. selama ini masih banyak para pendidik kita yang hanya menggunakan punishment atau hukuman.

2. Punishment

Punishment atau hukuman bukan hal yang baru lagi dalam dunia pendidikan. hukuman sudah terlalu mengakar tunggang dalam benak para pendidik dari jaman pendidikan yang penuh kekerasan hingga sekarang yang meskipun sudah di sana sini digembar gemborkan penghapusan kekerasan pada siswa tetap saja hukuman yang tidak membangun baik berupa kekerasan dan lainnya diterapkan dalam proses pembelajaran dan pendidikan.

contoh dari bentuk punishment yang tidak membangun banyak sekali ditemukan di sekolah, sebut saja siswa kena strap, harus berdiri dibawah tiang bendera. hukuman seperti demikian itu sama sekali tidak membangun. mestinya, ketika siswa melakukan sebuah pelanggaran, hukumlah mereka dengan sesuatu yang justru memberikan manfaat yang positif bagi mereka, misalnya dengan menghafalkan kosa kata bahasa inggris dengan jumlah tertentu dan masih banyak hukuman lainnya yang jauh lebih memberikan kontribusi positif.

Reinforcement yang berubah menjadi punishment

Bisakah sebuah reinforcement berubah menjadi punishment? jawabnya ya,bisa, simaklah kasus di bawah ini:

Sebuah keluarga yang mempunyai kebiasan makan siang bersama mampu menciptakan kehangatan tersendiri di tengah tengah keluarga, kehangatan ini adalah wujud reinforcement sehingga para anggota keluarga selalu ingin pulang agar bisa makan siang bersama keluaraga. namun, pada saat salah satu anggota keluarga, misalnya sang kakak saat pulang sekolah tidak langsung pulang ke sekolah tapi main dan mampir dulu ke rumah teman dan dilakukan berulang ulang, maka pada saat ia pulang kerumah tidak satupun dari anggota keluarga mau berbicara dengannya mulai dari ibu, ayah, dan adik karena ketidakikutsertaan sang kakak dalam acara makan siang berssama. gara gara sikap acuh itulah si kakak merasa mendapatkan hukuman. maka disitulah reinforcement berubah menjadi punishment.

Reinforcement dan Punishment merupakan perlakuan pendidik kepada anak didiknya. reinforcement dan punishment juga merupakan strategi untuk mengajar dan mendidik siswa, namun, diantara kedua perlakuan tersebut manakah yang lebih baik dan bermanfaat? simak ulasan di bawah ini.

1. Reinforcement

Reinforcement dalam dunia pendidikan anak diartikan sebagai penghargaan yang diharapkan bisa meningkatkan sikap dan perkembangan positif pada anak didik. Biasanya reinforcement berupa hadiah dan pujian. Berikut adalah contohnya;

Hadiah kejutan untuk kesuksesan ulangan harian

Misalnya, anda adalah seorang ibu atau ayah yang sedang menjemput pulang anak anda. Di dalam perjalanan pulang atau boleh juga pada saat tiba di rumah, tanyakan pada anak anda apakah hari ini ada ulangan atau tidak, jika ada ulangan bagaimana hasilnya. misalnya anak anda mendapatkan nilai 8 atau 9, maka ajaklah anak anda untuk merayakan keberhasilannya mencapai nilai tersebut. Langkah ini telah terbukti mampu memacu semangat belajar siswa, maka di sinilah terjadi reinforcement. perlu diketahui bahwa untuk melakukan reinforcement tidak harus menunggu anak mendapatkan nilai 8 atau 9, namun berapapun nilainya, orang tua harus mensupport anak didik.

Ada beberapa wujud reinforcement yang sering dilakukan oleh pendidik. Pertama, reinforcement perayaan keberhasilan dengan memberikan hadiah berupa makanan, kedua, berupa ucapan selamat, dan ketiga berupa hadiah yang lain seperti menonton film kesukaannya, pergi piknik dsb.

Dari beberapa bentuk reinforcement di atas, manakah yang paling baik?

secara berurutan, reinforcement berupa ucapan selamat menempati urutan teratas, disusul pemberian hadiah seperti nonton film dan piknik, dan akhirnya berupa makanan.

Reinforcement atau bukan?

jika seorang guru memberikan iming iming pada anak didiknya bahwa si anak didik akan mendapat hadiah uang, permen, sampai kesempatan pulang terlebih dahulu, bukan merupakan reinforcement, karena mereka hanya akan tertarik pada permen atau kesempatan pulang lebih awal. perlakuan semacam ini hanya akan memberikan efek negatif.

Penerapan reinforcement yang benar adalah “tidak ada peraturan, atau syarat di awal” maksudnya tidak ada perjanjian sebelumnya, namun lebih pada sebuah kejutan bahwa mereka mendapat penghargaan setelah mereka menjalankan kerja keras mereka.

Tidak lagi reinforcement?

Pada sebuah kasus di mana sebuah kelas yang berisi 20 siswa sedang melakukan ujian harian, 3 dari siswa tersebut mendapatkan nilai 10. kemudian sang guru memberikan mereka kesempatan nonton film sesuai judul kesukaan mereka yang disediakan oleh sekolah. dari sini maka siswa yang lain tentunya akan mengetahui konsequensi mendapatkan nilai 10 bisa menonton film dengan judul sesuai pilihan. mereka kemudian ikut ikutan berpacu mendapatkan nilai 10. Nah, apakah peran reinforcement di sini sudah tidak asli reinforcement lagi? jawabnya adalah, dalam ilmu konseling ada istilah Social Learning Theory, dimana, siswa sebenarnya tidak termotivasi oleh nonton filmnya tetapi keinginan meniru keberhasilan orang lain, sehingga mereka terpacu untuk belajar lebih serius. Demikian, reinforcement masih memegang fungsi aslinya sebagai reinforcement.

perlu diketahui bahwa sebaiknya reinforcement tidak diberikan berupa hal yang sama secara berulang ulang, karena disini anak didik sudah  bisa menebak apa yang akan mereka dapatkan, sehingga reinforcement akan kehilangan nilai aslinya.

Selama bertahun tahun dalam kiprah sepak terjang perjalanan panjang sejarah pendidikan di Indonesia, para pendidik kita melupakan peran reinforcement yang sebenarnya sangat fundamental dalam membentuk kepribadian dan semangat belajar siswa. reinforcemet tidak harus mahal, karena reinforcement yang paling baik adalah dengan kekuatan kata kata yang membangun. selama ini masih banyak para pendidik kita yang hanya menggunakan punishment atau hukuman.

2. Punishment

Punishment atau hukuman bukan hal yang baru lagi dalam dunia pendidikan. hukuman sudah terlalu mengakar tunggang dalam benak para pendidik dari jaman pendidikan yang penuh kekerasan hingga sekarang yang meskipun sudah di sana sini digembar gemborkan penghapusan kekerasan pada siswa tetap saja hukuman yang tidak membangun baik berupa kekerasan dan lainnya diterapkan dalam proses pembelajaran dan pendidikan.

contoh dari bentuk punishment yang tidak membangun banyak sekali ditemukan di sekolah, sebut saja siswa kena strap, harus berdiri dibawah tiang bendera. hukuman seperti demikian itu sama sekali tidak membangun. mestinya, ketika siswa melakukan sebuah pelanggaran, hukumlah mereka dengan sesuatu yang justru memberikan manfaat yang positif bagi mereka, misalnya dengan menghafalkan kosa kata bahasa inggris dengan jumlah tertentu dan masih banyak hukuman lainnya yang jauh lebih memberikan kontribusi positif.

Reinforcement yang berubah menjadi punishment

Bisakah sebuah reinforcement berubah menjadi punishment? jawabnya ya,bisa, simaklah kasus di bawah ini:

Sebuah keluarga yang mempunyai kebiasan makan siang bersama mampu menciptakan kehangatan tersendiri di tengah tengah keluarga, kehangatan ini adalah wujud reinforcement sehingga para anggota keluarga selalu ingin pulang agar bisa makan siang bersama keluaraga. namun, pada saat salah satu anggota keluarga, misalnya sang kakak saat pulang sekolah tidak langsung pulang ke sekolah tapi main dan mampir dulu ke rumah teman dan dilakukan berulang ulang, maka pada saat ia pulang kerumah tidak satupun dari anggota keluarga mau berbicara dengannya mulai dari ibu, ayah, dan adik karena ketidakikutsertaan sang kakak dalam acara makan siang berssama. gara gara sikap acuh itulah si kakak merasa mendapatkan hukuman. maka disitulah reinforcement berubah menjadi punishment.

alivfaizalmuhammad





POKOK-POKOK PIKIRAN PENERAPAN TEKNIK BEHAVIORAL COUNSELING

15 09 2009

TEKNIK BEHAVIORAL COUNSELINGTeori Dasar
1. Classical conditioning (Ivan P. Pavlov, John B. Watson, Joseph Wolpe)
2. Operant conditioning (Skinner)
3. Social learning (Albert Bandura)

Hakekat manusia
1. Manusia tidak dipandang secara instrinsik bisa baik atau buruk, tetapi melalui pengalaman, organisme mempunyai potensi untuk semua jenis tingkahlaku.
2. Manusia dapat mengkonsepkan dan sekaligus mengontrol tingkahlaku sendiri.
3. Manusia dapat mengembangkan tingkah laku baru.
4. Manusia dapat mempengaruhi tingkahlaku orang lain, begitu sebaliknya dapat dipengaruhi tingkahlaku orang lain.

Hakekat Masalah
1. Tingkahlaku maladaptif manusia merupakan hasil belajar.
2. Implikasi 1, sebenarnya tak ada tingkahlaku maladaptif, yang ada adalah tingkahlaku tepat (appropriate) atau tak tepat (inappropriate).
3. Implikasi 2, setiap tingkah laku membawa kepuasan atau sebaliknya ketidakpuasan. Tingkahlaku yang membawa ketidakpuasan merupakan masalah.
4. Dalam memandang masalah, dipakai hukum dasar behavioral yaitu hubungan stimulus dan respon.
5. Secara umum, masalah adalah “belajar secara salah”.

Proses dan Tujuan
Konseling behavioral menekankan pada tujuan ketimbang proses. Proses dirancang sesuai dengan tujuannya. Namun, sebagai patokan, ada enam langkah dasar yang diikuti dalam konseling behavioral:
1. Mengidentifikasi dan menyatakan tingkahlaku yang hendak diubah dalam istilah operasional.
2. Menentukan baseline dari tingkahlaku target yang diinginkan.
3. Menyusun situasi yang memungkinkan tingkahlaku target terjadi.
4. Mengidentifikasi stimulus atau peristiwa reinforcing yang potensial bagi tingkahlaku yang dipelajari.
5. Mereinforce tingkahlaku target yang diinginkan yang ditampilkan klien.
6. Mengevaluasi efek prosedur treatment.

Tujuan konseling seharusnya dirancang oleh klien, namun sebagai patokan secara umum konseling dimaksudkan untuk:
1. Mengubah tingkahlaku maladaptif klien melalui konseling;
2. Membantu klien mempelajari proses pengambilan keputusan yang lebih efisien;
3. Mencegah timbulnya masalah di kemudian hari;
4. Memecahkan masalah perilaku khusus yang dialami klien;
5. Mencapai perubahan tingkahlaku yang diterjemahkan ke dalam perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Peran dan Fungsi Konselor
1. Utama: (a) mengajar, (b) memberikan reinforcement kepada klien yang mengembangkan perilaku baru, (c) dalam belajar sosial, sebagai model.
2. Tambahan: (a) mengajar partisipan tentang proses , (b) membantu klien mengembangkan tujuan khusus dan jelas, (c) memberi gambaran betapa luasnya jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai suatu tujuan, (d) mengajar klien untuk membawa rencana yang dibuat dalam ke dalam kehidupan sehari-hari, dan (e) mengevaluasi teknik yang digunakan.

Teknik-Teknik Konseling
1. Desensitisasi Sistematis
• Dasar: classical conditioning (Wolpe, Pavlov, Watson)
• Masalah klien: kecemasan

2. Latihan Asertif (Ketegasan)
• Dasar: Social Skills (Alberti & Emmons)
• Masalah klien:
– orang tak dapat mengekspresikan kemarahannya
– orang yang tak bisa mengatakan “tidak”
– orang yang terlampau sopan dan selalu ingin menyenangkan orang lain
– orang yang susahmenyatakan perasaan dan respon-respon positif terhadap orang lain
– orang yang merasa tak memiliki hak untuk menyatakan pikiran, keyakinan, dan perasaannya.

3. Pengelolaan Diri (Self Management)
• Dasar: Cognitive behavior therapy
• Masalah klien:
– bagaimana mengontrol diri untuk merokok, minum minuman keras, narkoba,
– bagaimana mengelola waktu belajar
– bagaimana mengelola makan (kasus kegemukan).

4. Percontohan (Modeling)
• Dasar: Social Learning (Albert Bandura)
• Masalah:
– belajar perilaku baru
– memperkuat perilaku yang lemah





PENDEKATAN HUMANISTIK

15 09 2009

Pendekatan yang Humanistik mulai dalam menanggapi keprihatinan yang dirasakan oleh para terapis terhadap keterbatasan dari teori-teori psikodinamik, khususnya psikoanalisis. Individu-individu seperti Carl Rogers dan Abraham Maslow merasa ada (psikodinamik) teori memadai gagal menangani masalah-masalah seperti makna perilaku, dan sifat pertumbuhan yang sehat . Namun, hasilnya tidak hanya variasi baru pada teori psikodinamik, melainkan pendekatan baru yang mendasar.
Ada beberapa faktor yang membedakan Pendekatan Humanistik dari pendekatan-pendekatan lain dalam psikologi, termasuk penekanan pada makna subjektif, penolakan terhadap determinisme, dan kepedulian terhadap pertumbuhan positif daripada patologi. Sementara orang mungkin berpendapat bahwa beberapa teori psikodinamik memberikan visi pertumbuhan yang sehat (termasuk konsep Jung individuasi), yang lain membedakan karakteristik Pendekatan Humanistik dari setiap pendekatan lain dalam psikologi (dan kadang-kadang menyebabkan teori dari pendekatan-pendekatan lain untuk mengatakan Humanistik Pendekatan ini tidak ilmu sama sekali). Kebanyakan psikolog percaya bahwa perilaku hanya dapat dipahami secara obyektif (oleh pengamat yang netral), tetapi humanis berpendapat bahwa hasil ini dalam menyimpulkan bahwa seorang individu tidak mampu memahami perilaku mereka sendiri – suatu pandangan yang mereka lihat sebagai paradoks baik dan berbahaya untuk baik kesehatan. Sebaliknya, humanis seperti Rogers berpendapat bahwa makna pada dasarnya perilaku pribadi dan subjektif; mereka lebih jauh berpendapat bahwa menerima ide ini tidak ilmiah, karena pada akhirnya semua individu adalah subjektif: apa yang membuat ilmu pengetahuan tidak dapat dipercaya bahwa para ilmuwan yang murni objektif, tetapi bahwa sifat dari kejadian yang diamati dapat disepakati oleh berbagai pengamat (suatu proses verifikasi intersubjektif panggilan Rogers).
Masalah-masalah yang mendasari Pendekatan Humanistik, dan perbedaan dari pendekatan lain, akan dibahas lebih lengkap dalam teks, namun sumber-sumber yang berguna di bawah ini memberikan informasi tambahan. Satu hal patut dicatat: jika Anda ingin benar-benar memahami sifat Pendekatan Humanistik, Anda tidak dapat mempertimbangkan dalam istilah abstrak. Sebaliknya, Anda harus mempertimbangkan apakah dan bagaimana ide-ide berhubungan dengan pengalaman Anda sendiri – untuk itu adalah bagaimana makna perilaku ini berasal
ASUMSI DASAR MANUSIA MENURUT PENDEKATAN HUMANISTIK
1. Manusia adalah makhluk yang baik dan dapat dipercaya
Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang baik dan berupaya menjalin hubungan yang bermakna dan konstruktif dengan orang lain.
2. Manusia lebih bijak daripada inteleknya
Manusia lebih bijak dari pikiran-pikiran yang disadarinya bilamana manusia berfungsi dengan cara yang baik dan tidak disentrif.

3. Manusia adalah makhluk yang mengalami
Yaitu makhluk yang memikirkan, berkehendak, merasakan dan mempertanyakan. Rogers yakin bahwa inti dari kehidupan yang bernilai terletak dalam mengalami sebagai pribadi yang mendalam.
4. Kehidupan ada pada saat ini, kehidupan ialah hidup sekarang
Kehidupan itu lebih dari sekedar tingkah laku otonistik yang ditentukan oleh peristiwa masa lalu, dan nilai kehidupan terletak pada saat sekarang, bukan pada masa lalu atau pada saat yang akan datang.
5. Manusia adalah makhluk yang bersifat subyektif
Tingkah laku manusia hanya dapat dipahami berdasarkan dunia subyektifnya, yaitu bagaimana individu itu memandang diri dan lingkungannya.
6. Hubungan manusiawi yang mendalam merupakan salah satu kebutuhan yang terpokok manusia
Meningkatkan hubungan antar pribadi yang mendalam memiliki potensi yang sangat besar sebagai sumber kesejahteraan mental manusia.
7. Manusia memiliki kecenderungan kearah aktualisasi
Kecenderungan manusia adalah bergerak ke arah pertumbuhan, kesehatan, penyesuaian, sosialisasi, realisasi diri, kebebasan dan otonomi.

HAKIKAT TINGKAH LAKU NORMAL MANURUT PENDEKATAN HUMANISTIK
Pribadi sehat menurut carl rogers diistilahkan pribadi yang berfungsi secara penuh merupakan pribadi yang ideal dengan karakteristik seperti di bawah ini :
1. keserasian, keserasian antara diri dan pengalaman
manusia merevisi gambaran dirinya agar serasi dengan pengalamannya dan dilambangkan dengan tepat
2. keterbukaan terhadap pengalaman
bila individu berada dalam keadaan bebas ancaman, maka ia akan terbuka terhadap pengalamannya. Terbuka terhadap pengalaman adalah kebalikan dari sikap mempertahankan diri. Hal ini berarati, bahwa setiap stimulus baik yang berasal dari organisme atau dari lingkungan dapat disampaikan secara bebas melalui sistem saraf tanpa dikaburkan atau disalurkan menggunakan defence mechanisem.
3. penyesuaian diri secara psikologis
penyesuaian diri secara psikologis yang optimal akan terjadi bilamana semua pengalaman dapat diasimilasikan pada tingkat simbolik ke dalam keseluruhan struktur diri.
4. eksistensionalitas
individu cenderung melihat pengalaman dalam istilah yang didiferensiasi (dipilah-pilah), menyadari adanya perbedaan ruang dan waktu, mendasarkan diri pada fakta, menilai dengan berbagai cara, menyadari tingkat-tingkat abstraksi yang berbeda, menguji kesimpulan dan abstraksi dalam realita.
5. matang, kematangan (mature, maturity)
individu dikatakan menunjukkan tingkah laku yang matang bilamana ia mempersepsi diri secara realistis, tidak defensif, menerima tanggung jawab, mengevaluasi pengalaman berdasarkan dari penginderaannya sendiri, menerima orang lain sebagai individu yang berbeda dari dirinya dan menghargai diri dan orang lain.

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN DARI SUDUT :
Berdasarkan baik cukup kurang
1. inclussivenessnya v
2. verifikasi
3. kemampuan prediksi

Keterangan kolom :
1. pada kolom inclussivenessnya dikatakan baik karena pendekatan humanistik sangat mungkin digunakan oleh konselor karena pendekatan ini menekankan pentingnya memahami konseli dari pribadi ke pribadi yang mana hal tersebut merupakan tujuan dari proses konseling yang dilakukan oleh konselor dalam membantu konseli.
2. pada kolom verifikasi dikatakan baik karena pendekatan humanistik bersifat fleksibel yang mana dalam aplikasinya tidak memiliki teknik- teknik yang ditentukan secara tepat namun bisa diintegrasi dari pendekatan- pendekatan lain seperti Gestalt, Analisis transaksional, Psikoanalitik dan lain- lain.
3. pada kolom tingkat kemampuan prediksi dikatakan baik karena pendekatan huamnistik sangat menekankan keharusan konselor terlibat dengan konseli sebagai suatu pribadi yang menyeluruh sehinnga dengan menggunakan pendekatan humanistik ini tingkah laku konseli dapat diprediksi karena menekankan pemahaman dari pribadi ke pribadi.

CONTOH PERILAKU BERMASALAH
1. Sering merasa cemas karena masalah kecil atau pikiran pribadi.
2. merasa terancam oleh keadaan yang berlebihan.
3. susah menyesuaikan diri secara psikologis dengan lingkungan.
4. sering menganggap dirinya yang sekarang kurang ideal








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.